Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘tarian’

seudati aceh

Tari Seudati Aceh | Photo kicktheworld.blogspot.com

Sebuah artikel “The Atlantic Monthly” June 1956, berbunyi: “The island of Sumatera, parts of which have long been centers of Internasional trade in Asia, has a wide variety of Cultural patterns and dance traditions. In Ache, on the northern end of the island, the best knows dance is the Seudati, commonly performed by nine young men. This dance a lively, vigorous one is accompanied in song by one the young men while the other go through an intricate figuration of leaps forwards sidewards and backwards, accentuating the rythm them of the song by snapping their thumbs and middle fingers and by beating their chest with the palm of their hands”.

Artinya : Pulau Sumatera bahagian daerah yang telah lama menjadi pusat perdagangan antar bangsa Asia telah cukup luas mempunyai aneka pola-pola kebudayaan dan tarian-tarian tradisionil. Di Aceh ujung Utara pulau itu, tarian yang sangat terkenal adalah Seudati” yang umumnya dimainkan oleh 9 orang atau 10 orang pemuda. Tarian mereka hidup dan bersemangat diikuti oleh nyanyian seorang pemuda sedangkan yang lain mengadakan formasi liku-liku rupa lompat kedepan, samping, dan belakang, sejalan dengan irama nyanyian dan deripan bunyi ibu jari tengah serta pukulan dada mereka dengan telapak tangan mereka

Siapa sih yang tidak mengenal tari seudati. Salah satu tarian asal Aceh ini kerap dimainkan diberbagai acara dan pertandingan seni. Tarian ini sangat digemari oleh kaum lelaki. Permainan seudati adalah perpaduan anatara seni Tari dan seni Suara yang juga disebut “Saman“. Tari ini merupakan tarian spesifik Aceh. Ia juga merupakan tarian daerah yang melambangkan kepribadian rakyat dengan sifatt-sifat patriotik dan seninya bergabung dalam satu bentuk tari-tarian yang heroik. Oleh karena itu, tarian ini sempat dilarang pada zaman Belanda.

Salah satu ciri tarian Seudati adalah dapat dipertandingkan anatara dua kelompok yang dimainkan berganti-ganti untuk dinilai pihak mana yang lebih unggul. Ini merupakan faktor pendorong bagi kampung-kampung untuk menghidupkan kesenian ini ditempatnya. Organisasinya sangat sederhana, yaitu diketahui oleh seorang “ABU SAMAN” atau Peutua. Sedangkan pimpinan permainan dipimpin oleh (more…)

Read Full Post »

Tarian ini merupakan tarian pesisir pantai laut daerah Temiang, Aceh Timur dikala bulan mengambang, sebagai ungkapan kisah seorang pemuda pengelana menghadapi rintangan, mencari puteri idaman hati, pujaan rindu dan pelerai dukanya. Gaya ular menjalar dalam tarian ini melambangkan kelunakan, kelincahan, kewaspadaan, sedangkan lembing adalah pelambang gaya ketangkasan, kegesitan dalam membela dan menjaga sesuatu kemungkinan.

Tarian ular-ular lembing dimulai dengan suatu upacara pembukaan sebagai acara penghormatan dengan iringan lagu patam-patam, dilanjutkan dengan tarian Niti Batang gerak gaya enjut kedidi. Berikutnya tarian Tunda-tunda Beting, diteruskan dengan tarian Pungku-pungku pangka diiringi irama lagu dadoi. selanjutnya disambung dengan tarian endap-endap Bicok dan sebagai penutup iringan lagu Ular-ular lembing beralun-alun lambat.

Antara urut-urutan tarian-tarian tersebut diselingi oleh refr. sebagai penyela alih lakon. Penampilan tarian Ular-ular Lembing ini dalam keserasian bentuk dan wataknya dengan agama Islam, bukan menjadi media perangsang keberahian maupun sebagai kefatalan khayal asmara.

Read Full Post »